Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) adalah suatu organisasi nir- laba dan non-politis yang bergerak di bidang hubungan internasional, dan terbuka untuk semua kalangan. FPCI ingin memfasilitasi suatu ruang bersama yang mempertemukan mahasiswa, dosen, Kementerian Luar Negeri dan Departemen lainnya yang mempunyai dimensi internasional, korps diplomatik, pengusaha (Indonesia maupun internasional) dan think tank, wartawan dan semua kalangan yang bergerak di bidang hubungan internasional.

Dewasa ini, profil Indonesia di dunia internasional telah mengalami perubahan signifikan, baik secara geostrategis, politik dan ekonomi. Indonesia telah menjadi kekuatan regional sekaligus pemain global (sebagai anggota G-20). Lingkungan strategis, aset nasional, agenda diplomasi dan ruang manuver Indonesia terus berkembang. Dampak perkembangan dunia internasional terhadap kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia kini jauh lebih tinggi dari era-era sebelumnya, dan trend ini akan terus berlanjut.

FPCI bersifat terbuka untuk semua kalangan yang mempunyai minat atau bergerak dalam bidang hubungan internasional, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk menjadi anggota FPCI, cukup dengan mendaftar di website FPCI. Keanggotaan di FPCI bersifat gratis.

Namun pada saat yang bersamaan juga timbul suatu paradox di tanah air: di satu sisi, gelora nasionalisme semakin meninggi, namun di sisi lain semangat internasionalisme kita masih terbatas.  Masih sering ada disconnect antara pemahaman masyarakat mengenai dunia dengan isyu-isyu aktuil yang berkembang di dunia internasional.  Gejala xenophobia, paranoia, nasionalisme yang defensif dan siege mentality (merasa dikepung dunia) masih sering timbul.  Sementara itu, kekayaan pemikiran dan ide dari Indonesia belum banyak terdengar dalam global marketplace for ideas.

Hal ini penting kita cermati karena Indonesia tidak mungkin menjadi raksasa Asia dan major power di abad ke-21 kalau bangsa kita menganut nasionalisme sempit dan  internasionalisme yang redup.  Kita dapat menarik pelajaran penting dari pengalaman sederetan negara-negara berkembang – apapun ukurannya, apakah besar, menengah atau kecil – yang berhasil melejit karena sanggup mengkombinasikan nasionalisme yang kuat dengan internasionalisme yang dinamis – misalnya, Tiongkok, India, Korea Selatan, Turki, Jepang, Afrika Selatan, Bostwana, Ghana, Costa Rica, Qatar, Singapura, Brazil, UAE, Meksiko, dll.

Karena itulah, FPCI dibentuk dengan tujuan mengembangkan internasionalisme Indonesia, ke seluruh Nusantara, dan memproyeksikannya ke seluruh dunia.  FPCI bertekad membentuk suatu komunitas besar hubungan internasional di Indonesia yang mempunyai wawasan global yang matang dan peka terhadap isyu-isyu bilateral, regional dan global.  FPCI juga bertujuan menjadi fasilitator yang dapat membawa “dunia” ke daerah dan secara bersamaan membawa pemikiran-pemikiran di akar rumput dan daerah ke pentas nasional dan dunia.

Program FPCI

Ambassador Goes to Campus

The purpose of this activity is to engage students and academics whom are distant from foreign policy making due to lack of interaction and participation in foreign policy relevant activities. More often than anticipated, students and youths are not aware of how the world has changing and they have become parts of global citizen through daily consumption of foods, gadgets, and web-based activities. The activity consists of 1) initial assessment of students’ awareness of Indonesia’s foreign policy, globalization, and select international issues, 2) seminar on Indonesian foreign policy and other issues of importance, and 3) selecting campus champions to be the main contact for FPCI chapter whom will initiate and manage future activities in a particular university.

Conference on Indonesian Foreign Policy (FPCI)

In June 13, 2015, FPCI hold annual conference specifically discussing and debating numerous issues relevant to Indonesian foreign policy. The first ever CIFP in 2015 broke the record for the number of participants attending foreign policy forums in Indonesia with 2,156 attendees. The participants are mostly students, diplomats, diplomatic corps in Jakarta, official across ministries, lecturers, think tanks, and journalists from major news outlets. CIFP 2015 has established FPCI’s presence in the national and international organization with substantial convening power. More importantly, CIFP has enabled FPCI to manifest its mission to provide the platform for wider foreign policy discussion for multi-stakeholders with 24 parallel sessions ranging from security in the Middle East; economic, trade, and investment; environmental sustainability, the South China Sea, and the role of youths, among others.

China Policy Group

With the changing international role exhibited by China, FPCI understand that Indonesia needs to get its China policy right. At the same time, taking into account that bureaucratic bottleneck delaying a swift and fast policy change, FPCI establishes a network of experts, business community, think tank and journalists with expertise on China. This network of experts will convene periodically to discuss Indonesia’s policy towards China. The policy recommendations will be submitted to the Ministry of Foreign Affairs as input from public participation.

Montly Seminars

FPCI regularly held seminar, public discussion, or public forum every month. The topics are vary depend on the current issues or phenomena. On this activity, we aim to enhance public’s knowledge and awareness to international issues, develop students’ critical thinking, and draw together the foreign policy makers or government officials, diplomats, international organizations, and public in one good place.

Write to China

In cooperation with Embassy of People’s Republic of China in Jakarta, FPCI held a essay writing competition. This competition targets bright Indonesian students aged 18 to 22 to deliver their thoughts about China and/or billateral relations between Indonesia and China.

The winners of the competition will be rewarded a trip to China for several days. The trip is fully accomodated by Embassy of People’s Republic of China.

FPCI’s Secretariat

Advisor                         : Ambassador Dr. Dino Patti Djalal

Executive Secretary     : M. Irfan

Finance                        : Meryl R. Saragih

Program Manager        : Lailatunnazhifah

Logistics                       : Andhika E. Putra