Sejarah dan Perkembangan

Setelah 27 tahun menekuni dunia diplomasi, founder melihat bahwa profil Indonesia di dunia internasional telah mengalami perubahan signifikan, baik secara geostrategis, politik maupun ekonomi.  Indonesia telah menjadi kekuatan regional sekaligus pemain global (sebagai anggota G-20).  Lingkungan strategis, aset nasional, agenda diplomasi serta ruang manuver Indonesia terus berkembang.  Kenyataannya, dampak dunia internasional terhadap kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia kini jauh lebih tinggi dari era-era sebelumnya, dan tren ini akan terus berlanjut.

 

Namun pada saat yang bersamaan timbul suatu paradoks di tanah air: yakni di satu sisi, gelora nasionalisme semakin meninggi, namun di sisi lain semangat internasionalisme Indonesia masih terbatas.  Masih sering ada disconnect antara pemahaman masyarakat mengenai dunia dengan isu-isu aktual yang berkembang di dunia internasional.  Gejala xenophobia (rasa tidak suka atau takut terhadap orang dari luar negeri), paranoia, nasionalisme yang defensif dan siege mentality (merasa dikepung dunia) juga masih ada.

 

Masih ada pula mahasiswa Indonesia yang menghadapi isu internasional dengan retorika dogmatik dan emosional ketimbang menghadirkan analisa dingin yang substantif.  Sementara itu, kekayaan pemikiran dan ide dari Indonesia belum banyak terdengar dalam global marketplace for ideas.

 

Hal ini penting untuk dicermati, Indonesia tidak mungkin menjadi raksasa Asia dan major power di abad ke-21 apabila masih menganut nasionalisme sempit dan  internasionalisme yang redup.  Indonesia dapat menarik pelajaran penting dari pengalaman sederetan negara-negara berkembang –apapun ukurannya, apakah besar, menengah atau kecil– yang berhasil melejit karena sanggup mengombinasikan nasionalisme yang kuat dengan internasionalisme yang asertif. Misalnya, Tiongkok, India, Korea Selatan, Turki, Jepang, Afrika Selatan, Bostwana, Ghana, Costa Rica, Qatar, Singapura, Brazil, UAE, Meksiko, dll.

 

Karena itulah, FPCI dibentuk dengan tujuan mengembangkan internasionalisme Indonesia, membuatnya lebih mengakar di seluruh Nusantara, dan memproyeksikannya ke seluruh dunia.  FPCI bertekad membentuk suatu komunitas besar hubungan internasional yang mempunyai wawasan global yang matang dan peka terhadap isu-isu bilateral, regional dan global.

 

FPCI bertujuan menjadi fasilitator yang dapat membawa “dunia” ke daerah dan secara bersamaan membawa pemikiran-pemikiran di akar rumput dan daerah ke pentas nasional dan dunia.

 

FPCI mempunyai nilai-nilai sebagai berikut :

  1. Memberikan WADAH BAGI SELURUH ELEMEN; para pelaku, pengamat, pengajar, pelajar dan pemerhati hubungan internasional.  Dengan demikian, forum ini akan mempertemukan pejabat Pemerintah termasuk Kementerian Luar Negeri, korps diplomatik di Indonesia, lembaga internasional, perusahaan internasional, fakultas hubungan internasional, mahasiswa dan pelajar, dan semua pihak yang berkepentingan pada diplomasi.  Mengingat semakin besarnya peran dunia korporat dan UMKM dalam agenda hubungan internasional, FPCI juga mengikut-sertakan komunitas korporat Indonesia dan internasional dalam kegiatan-kegiatan kami.
  2. TERBUKA keanggotaannya untuk semua kalangan, baik di dalam maupun luar negeri.
  3. NON-POLITIS dan tidak beragenda politik.
  4. Membawa isu-isu hubungan internasional ke AKAR RUMPUT dalam arti bukan hanya elit namun masyarakat luas dan seluruh Indonesia.
  5. Melakukan PENCERAHAN kepada masyarakat dan kampus mengenai isu-isu internasional yang baru, aktual, terkini dan aktif dibahas di belahan dunia lain, serta relevan terhadap masa depan Indonesia.
  6. Menjadi JEMBATAN agar pemikir hubungan internasional di akar rumput dan daerah bisa mendapat pengalaman bekerja atau magang di dunia internasional melalui program yang inovatif.
  7. Membangun suatu komunitas yang INTELLECTUALLY ACTIVE; kaya akan ide, analisa, perspektif dan rekomendasi kebijakan.
  8. INTERAKTIF, dalam arti bisa memfasilitasi komunikasi dua arah, dan dapat mengangkat analisa-analisa cemerlang dari dosen atau mahasiswa ke pusaran nasional dan internasional melalui website, e-journal dan milis FPCI.
  9. MERITOKRASI, dalam arti memberikan peluang dan berusaha menjaring pemikir-pemikir terbaik di bidang hubungan internasional dari seluruh Nusantara.